![]() |
Dalam acara Tutur Economic Dialogue di Jakarta, Selasa (7/4/2026), Wijayanto menyampaikan bahwa upaya efisiensi yang dilakukan pemerintah perlu terus diperkuat agar tepat sasaran. Ia memproyeksikan defisit anggaran berpotensi berada pada kisaran 3,5% hingga 4% apabila pengelolaan belanja tidak dilakukan secara optimal.
“Kita memang mengefisienkan pengeluaran, namun masih terdapat beberapa pos yang perlu terus dievaluasi agar penghematan lebih efektif,” ujar Wijayanto.
Menurutnya, kebijakan efisiensi, termasuk pada belanja Aparatur Sipil Negara (ASN), perlu diiringi dengan evaluasi menyeluruh terhadap program-program strategis agar memberikan dampak yang signifikan terhadap kesehatan fiskal.
Ia juga menekankan pentingnya peninjauan berkala terhadap berbagai program prioritas pemerintah, termasuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), serta belanja alat utama sistem senjata (alutsista), guna memastikan efektivitas dan keberlanjutan anggaran.
Selain itu, Wijayanto mengingatkan bahwa tekanan fiskal di tingkat pusat berpotensi berdampak pada pemerintah daerah, terutama apabila terjadi penyesuaian dana transfer ke daerah. Kondisi tersebut perlu diantisipasi agar tidak mengganggu jalannya program pembangunan di daerah.
Faktor eksternal seperti dinamika geopolitik global, termasuk konflik di kawasan Timur Tengah yang berdampak pada kenaikan harga energi, turut menjadi perhatian dalam menjaga stabilitas fiskal nasional.
“Kondisi fiskal saat ini perlu dikelola secara hati-hati agar tetap terjaga dan mampu mendukung stabilitas ekonomi,” tambahnya.
Sebelumnya, pemerintah memproyeksikan efisiensi anggaran negara berada pada kisaran Rp 254,4 triliun hingga Rp 263,4 triliun melalui berbagai kebijakan, termasuk implementasi transformasi budaya kerja nasional, penyesuaian belanja kementerian/lembaga, serta optimalisasi program prioritas.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyampaikan bahwa salah satu potensi efisiensi berasal dari penyesuaian pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Potensi penghematan dari kegiatan ini diperkirakan mencapai sekitar Rp 20 triliun,” ujar Airlangga.



