Notification

×

ESDM Cari Jalur Alternatif untuk Jaga Pasokan Batu Bara ke Pembangkit PLN

Jumat, 11 September 2026 | 15.44.00 WIB | 0 Views Last Updated 2026-09-11T08:44:33Z

Jendela-fakta.com  Jakarta – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyiapkan sejumlah langkah untuk menjaga kelancaran pasokan batu bara ke PT PLN (Persero) di tengah ancaman musim kemarau yang dipengaruhi fenomena El Niño, terutama di wilayah Kalimantan.


Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Minerba) Kementerian ESDM Tri Winarno mengatakan kondisi alam seperti kemarau panjang merupakan faktor yang tidak dapat dikendalikan. Karena itu, pemerintah lebih berfokus pada pengamanan ketersediaan batu bara serta memastikan jalur distribusinya menuju pembangkit PLN tetap berjalan.

“Poinnya adalah kita antisipasi untuk suplainya ke PLN seperti apa,” ujar Tri seusai menghadiri perayaan HUT ke-36 Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) di JIExpo Kemayoran, Kamis (10/9/2026).

Menurut Tri, pemerintah tidak dapat melawan kondisi alam yang terjadi. Namun, langkah mitigasi dapat dilakukan dengan menyesuaikan jalur pengangkutan batu bara apabila akses utama mengalami kendala akibat penurunan permukaan air.

Ia menjelaskan pengiriman dapat dialihkan melalui jalur sungai lain yang masih memungkinkan untuk dilalui kapal tongkang. Pemerintah juga membuka opsi mencari sumber pasokan alternatif dari wilayah berbeda apabila kondisi perairan di Kalimantan Tengah semakin menyulitkan distribusi.

“Kalau kering, entah yang Kalimantan Tengah itu kita lewati, atau kita ganti yang lain. Cari jalur yang lain,” kata Tri.

Strategi tersebut diharapkan dapat mencegah terganggunya pasokan batu bara bagi pembangkit listrik PLN. Dengan demikian, operasional pembangkit dan keandalan sistem kelistrikan nasional tetap dapat dipertahankan selama musim kemarau.

Kekhawatiran mengenai distribusi batu bara sebelumnya muncul setelah sejumlah jalur transportasi sungai di Kalimantan mengalami pendangkalan dan penurunan debit air akibat kondisi kering. Sungai Barito yang melintasi Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan serta Sungai Mahakam di Kalimantan Timur merupakan sejumlah jalur penting bagi pengangkutan batu bara menggunakan tongkang.

Berdasarkan data Shanghai Metals Market (SMM) yang dikutip pada Kamis (10/9/2026), ekspor batu bara Indonesia melalui jalur laut pada Agustus 2026 mencapai sekitar 36,10 juta ton. Angka tersebut turun 23,34% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya dan menyusut 6,54% secara bulanan.

Penurunan tersebut menjadi bagian dari tren pelemahan ekspor selama tiga bulan berturut-turut. Volume pengiriman pada Agustus bahkan menjadi yang terendah untuk bulan tersebut dalam lima tahun terakhir.

Dari sisi negara tujuan, pengiriman ke China tercatat 14,47 juta ton, sementara India mencapai 7,10 juta ton. Secara bulanan, ekspor ke kedua negara tersebut justru meningkat masing-masing 1,26% dan 12,01%.

Sebaliknya, pengiriman batu bara ke Filipina dan Vietnam mengalami penurunan. Ekspor ke Filipina turun 26,38%, sedangkan pengiriman ke Vietnam berkurang 21,58% secara bulanan.

Sementara itu, Argus Media melaporkan bahwa penurunan kedalaman sungai telah membatasi pergerakan batu bara dari area tambang menuju terminal ekspor. Kondisi tersebut bahkan membuat sejumlah produsen menyatakan force majeure atas pengiriman.

Rendahnya permukaan air Sungai Barito disebut menjadi salah satu faktor yang mendorong produsen mengambil langkah tersebut. Kondisi kering yang berpotensi berlangsung lebih lama akibat El Niño turut meningkatkan kekhawatiran terhadap kelancaran ekspor batu bara.

Wilayah Kalimantan Tengah sendiri merupakan salah satu daerah penghasil batu bara dengan spesifikasi kalori menengah hingga tinggi. Beberapa tambang di kawasan tersebut mampu menghasilkan hingga sekitar 100.000 ton batu bara per bulan.

Pada tahun sebelumnya, produksi batu bara dari Kalimantan Tengah tercatat sekitar 45,78 juta ton, dengan sekitar 29,54 juta ton di antaranya dialokasikan untuk pasar ekspor.

Argus juga melaporkan sebagian wilayah hulu Sungai Barito sudah tidak dapat dilalui kapal. Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap kegiatan pengangkutan dan pengiriman batu bara dari sejumlah perusahaan tambang di kawasan tersebut.
 (ag/tj) 
TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update