![]() |
Data pemantauan IQAir pada pukul 06.00 WIB menunjukkan Air Quality Index (AQI) Jakarta berada di level 101. Polutan utama yang terdeteksi saat itu adalah ozon (O3), dengan konsentrasi 137,9 mikrogram per meter kubik (µg/m³).
Level tersebut menunjukkan adanya risiko bagi kelompok masyarakat yang lebih rentan terhadap pencemaran udara. Anak-anak, lanjut usia, serta orang yang memiliki gangguan pernapasan disarankan lebih berhati-hati, khususnya ketika harus melakukan aktivitas di luar ruangan.
Prakiraan IQAir menunjukkan kualitas udara Jakarta berpotensi mengalami penurunan sepanjang hari.
Pada pukul 07.00 WIB, nilai AQI diperkirakan berada di angka 106. Angka tersebut kemudian diproyeksikan meningkat menjadi 109 pada pukul 08.00 dan 09.00 WIB.
Kondisi sempat diperkirakan sedikit membaik pada pukul 10.00 WIB dengan AQI 107. Namun, kualitas udara kembali berpotensi memburuk mulai siang hingga sore.
AQI diprediksi mencapai 114 pada pukul 14.00 WIB, kemudian meningkat menjadi 128 pada pukul 15.00 WIB dan 145 pada pukul 16.00 WIB.
Situasi diperkirakan mencapai kondisi terburuk pada malam hari. Pada pukul 17.00 WIB, AQI Jakarta diproyeksikan menyentuh angka 151 yang masuk kategori tidak sehat.
Nilainya kemudian diperkirakan naik menjadi 158 pada pukul 18.00 WIB dan mencapai 161 pada pukul 19.00 WIB.
Setelah melewati periode tersebut, kualitas udara diprediksi mulai membaik. AQI diperkirakan turun menjadi 135 pada pukul 21.00 WIB dan kembali turun ke 123 pada pukul 22.00 WIB.
Jakarta masuk daftar kota dengan udara terburuk
Dalam pemeringkatan kualitas udara global IQAir pada pukul 07.12 WIB, Jakarta tercatat berada di posisi ke-16 dalam daftar lokasi dengan kualitas udara terburuk pada saat pemantauan.
Kondisi ini berlangsung bersamaan dengan masuknya sebaran abu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau ke wilayah Ibu Kota.
Berdasarkan informasi Badan Geologi Kementerian ESDM, Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi pada Minggu (6/9/2026) sekitar pukul 07.10 WIB.
Erupsi tersebut memiliki amplitudo maksimum 50 milimeter dan berlangsung selama 16 detik. Gunung Anak Krakatau saat ini masih berstatus Level III atau Siaga.
Pemprov DKI pantau sebaran abu
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meminta masyarakat tetap tenang sekaligus meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak abu vulkanik.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga terus memantau perkembangan sebaran abu. Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta Chico Hakim menyampaikan bahwa pemantauan dilakukan berdasarkan perkembangan informasi dari lembaga terkait.
Dalam pembaruan BMKG pada pukul 09.03 WIB, sebaran abu disebut telah mencapai sebagian wilayah DKI Jakarta dan meluas hingga Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah.
Warga diminta membatasi aktivitas luar ruangan
Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Ani Ruspitawati mengingatkan bahwa paparan abu vulkanik dapat memengaruhi kualitas udara dan menimbulkan gangguan kesehatan.
Beberapa keluhan yang dapat muncul antara lain batuk, iritasi pada tenggorokan, sesak napas, hingga memburuknya kondisi orang yang memiliki asma maupun penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).
Masyarakat Jakarta disarankan mengurangi aktivitas, terutama olahraga di luar ruangan, ketika kualitas udara sedang memburuk.
Untuk mengurangi masuknya partikel dari luar, warga juga dianjurkan menutup jendela dan membatasi sirkulasi udara dari luar saat kondisi lingkungan tidak mendukung.
Kelompok yang rentan terhadap polusi udara sebaiknya menggunakan masker apabila harus beraktivitas di luar rumah. Penggunaan air purifier di dalam ruangan juga dapat menjadi salah satu pilihan untuk membantu menjaga kualitas udara.
Apabila mengalami gangguan pernapasan atau iritasi mata setelah terpapar abu vulkanik, masyarakat diminta segera mencari pertolongan di fasilitas pelayanan kesehatan.
Masyarakat juga diimbau mengikuti perkembangan informasi resmi dari BMKG, PVMBG, BPBD, dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk mengetahui kondisi terbaru terkait sebaran abu vulkanik maupun kualitas udara.
(ag/tj)


