Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Pengabdian Perawat Indonesia Layani Jama'ah Haji di Tanah Suci

Sabtu, 09 Mei 2026 | Mei 09, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-05-10T04:56:51Z


Jendela-fakta.com, MAKKAH — Di tengah suhu panas ekstrem dan padatnya arus jamaah di Terminal Jabal Ka’bah, Makkah, seorang perawat asal Indonesia tetap berdiri sigap memberikan pelayanan kesehatan bagi para tamu Allah di Tanah Suci.

Fransiska Mainake (38), perawat di RSPAD Gatot Soebroto, mendapat tugas sebagai petugas Penanganan Krisis dan Pertolongan Pertama pada Jamaah Haji (PKP2JH) di Sektor Khusus Masjidil Haram selama musim haji berlangsung.

Perempuan kelahiran Malang keturunan Ambon itu mengaku termotivasi menjalankan tugas karena ingin membantu jamaah haji Indonesia dari sisi medis sekaligus menjalankan ibadah.

“Motivasi saya ingin melayani jamaah calon haji Indonesia dari segi medis. Selain itu, saya juga berniat beribadah,” kata Fransiska.

Dalam menjalankan tugas, Fransiska bersama tim tidak hanya menangani kondisi darurat. Mereka juga aktif memberikan edukasi kesehatan kepada jamaah, terutama kelompok lanjut usia dan jamaah berisiko tinggi sebelum menjalani rangkaian ibadah haji.

Petugas PKP2JH harus bergerak cepat ketika ada jamaah yang mengalami gangguan kesehatan mendadak, mulai dari kelelahan, pingsan, hingga kondisi kritis di tengah kerumunan jamaah yang memadati kawasan Masjidil Haram.

Cuaca panas dan mobilitas tinggi di area terminal menjadi tantangan tersendiri bagi para petugas kesehatan. Untuk menjaga keselamatan saat bertugas, tim menerapkan sistem pendampingan atau buddy system.

Setiap petugas diwajibkan bekerja bersama rekan lainnya dan tidak diperkenankan melakukan patroli sendirian.

Meski pekerjaan sangat menguras tenaga, Fransiska mengaku banyak pengalaman spiritual yang membuat dirinya terharu selama bertugas di Tanah Suci.

Salah satu momen yang paling membekas terjadi ketika dirinya membantu seorang jamaah lansia yang kebingungan di kawasan Dar Al Tawhid. Jamaah tersebut ingin melaksanakan shalat di depan Ka’bah namun takut tersesat karena kondisi yang sangat padat.

“Saya antar beliau sampai ke depan Ka’bah. Beliau menangis sambil memegang tangan saya erat karena takut hilang. Beliau sangat bersyukur akhirnya bisa sampai di depan Ka’bah,” ujarnya.

Menurut Fransiska, interaksi dengan jamaah lanjut usia memberinya banyak pelajaran tentang kesabaran dan ketulusan dalam melayani.

Ia juga mengaku kagum melihat perjuangan para jamaah lansia yang rela menunggu antrean haji bertahun-tahun demi bisa beribadah ke Tanah Suci.

“Mereka menunggu sangat lama dan perjuangannya luar biasa. Saya kagum melihat tekad mereka untuk bisa datang beribadah ke sini,” kata Fransiska.

Dedikasi petugas kesehatan seperti Fransiska menjadi bagian penting dalam mendukung kenyamanan dan keselamatan jamaah haji Indonesia selama menjalankan ibadah di Tanah Suci.
TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update