![]() |
Dalam rapat koordinasi yang digelar di Jakarta, Zulhas menyebut jumlah titik dapur MBG yang tercatat saat ini melebihi perencanaan awal, baik di wilayah reguler maupun di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Menurutnya, data awal menunjukkan kebutuhan sekitar 21 ribu titik dapur di luar wilayah 3T. Namun, berdasarkan laporan terbaru, jumlah tersebut meningkat menjadi 27.877 titik atau bertambah sekitar 6.877 titik dari rencana semula.
Selain itu, di wilayah 3T yang semula direncanakan memiliki sekitar 2.000 titik dapur, jumlahnya tercatat meningkat menjadi 8.617 titik. Dari jumlah tersebut, lebih dari 6.000 titik disebut telah memperoleh surat keputusan dari pihak terkait.
Zulhas menilai kondisi tersebut perlu mendapat perhatian serius karena berpotensi menimbulkan pembengkakan anggaran yang cukup besar dalam pelaksanaan program MBG.
Ia memperkirakan tambahan ribuan titik dapur tersebut dapat menyebabkan pengeluaran negara meningkat hingga sekitar Rp1 triliun setiap bulan apabila tidak dilakukan penataan dan evaluasi secara menyeluruh.
Karena itu, pemerintah meminta pihak terkait untuk melakukan pembenahan data dan evaluasi terhadap keberadaan titik-titik dapur yang telah terdaftar agar pelaksanaan program berjalan lebih efektif, tepat sasaran, dan sesuai kebutuhan di lapangan.
Menurut Zulhas, langkah penataan diperlukan untuk memastikan penggunaan anggaran negara tetap efisien sekaligus menjaga keberlanjutan Program Makan Bergizi Gratis yang menjadi salah satu program prioritas pemerintah.
(ag/tj)



