Notification

×

Jurnalis Mojokerto Gelar Doa untuk 5 Wartawan dan 3 Kru Ekspedisi Anak Krakatau

Senin, 14 September 2026 | 15.50.00 WIB | 0 Views Last Updated 2026-09-14T08:50:06Z

Jendela-fakta.com Mojokerto – Keprihatinan atas belum ditemukannya lima wartawan dan tiga kru ekspedisi Anak Krakatau mendorong insan pers di Mojokerto menggelar aksi solidaritas.


Puluhan jurnalis yang tergabung dalam Media Center Ruang Jurnalis Mojokerto (MC RJM) bersama Aliansi Wartawan Mojokerto Raya menggelar doa bersama dan tabur bunga di Alun-alun Kota Mojokerto, Senin (14/9/2026) pagi.


Dengan suasana penuh haru, para jurnalis berkumpul untuk memanjatkan doa bagi keselamatan rekan seprofesi beserta kru ekspedisi yang hingga kini belum diketahui keberadaannya.


Lilin dan Kartu Pers Jadi Simbol Solidaritas


Selain doa bersama, para jurnalis melakukan sejumlah aksi simbolis sebagai bentuk dukungan moral kepada keluarga korban serta tim yang masih melakukan pencarian.


Tabur bunga, penyalaan lilin, hingga peletakan kartu pers menjadi bagian dari aksi tersebut. Simbol-simbol itu sekaligus menggambarkan duka dan solidaritas sesama insan pers atas musibah yang terjadi.


Kegiatan tersebut turut dihadiri sejumlah elemen di Mojokerto, di antaranya perwakilan PT SPS, Hotel Aston Mojokerto, serta sejumlah pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD) Kabupaten Mojokerto.


Koordinator MC RJM, M. Syafiuddin, mengatakan kegiatan tersebut tidak memiliki agenda lain selain menyampaikan doa dan kepedulian terhadap rekan-rekan jurnalistik yang tengah mengalami musibah.


“Ini murni kegiatan teman-teman untuk mendoakan teman jurnalistik yang belum ditemukan. Keprihatinan kita bersama karena teman kita terkena musibah,” ujarnya.


Syafiuddin berharap lima wartawan bersama tiga kru ekspedisi yang belum ditemukan dapat segera diketahui keberadaannya dalam kondisi selamat.


Ia juga berharap hilangnya komunikasi dengan rombongan tersebut hanya disebabkan persoalan teknis, seperti gangguan sinyal.


“Kita berdoa yang terbaik untuk lima rekan kita beserta ABK. Semoga hanya hilang sinyal saja dan mereka segera ditemukan dalam kondisi selamat,” katanya.


Keselamatan Jurnalis Harus Jadi Prioritas


Di tengah keprihatinan tersebut, Syafiuddin menyebut musibah ini menjadi pengingat bagi seluruh pekerja media mengenai pentingnya aspek keselamatan saat menjalankan tugas jurnalistik.


Menurutnya, profesi jurnalis memang menuntut keberanian untuk mencari informasi dan menyampaikannya kepada masyarakat. Namun, keberanian tersebut tetap harus diimbangi dengan perhitungan terhadap risiko di lapangan.


“Ini menjadi peringatan bagi kita bahwa tidak ada berita yang seharga dengan nyawa,” tegasnya.


Ia menilai setiap jurnalis perlu melakukan mitigasi dan memperhitungkan kondisi lokasi sebelum menjalankan peliputan, terutama ketika berada di wilayah yang memiliki potensi bahaya.


“Memang ada informasi penting yang harus disampaikan kepada masyarakat. Tetapi kita juga harus menghitung bagaimana keselamatan kita. Kalau tidak, kita yang justru akan dikabarkan,” ujarnya.


Bagi Syafiuddin, tugas jurnalistik dan keselamatan harus berjalan beriringan. Informasi yang penting bagi publik tetap harus disampaikan, namun tidak boleh mengabaikan keselamatan jurnalis maupun kru yang bertugas.


Doa bersama kemudian ditutup dengan harapan agar proses pencarian membuahkan hasil dan kabar baik segera diterima keluarga serta rekan-rekan para korban.


“Semoga masih ada cahaya bagi teman-teman kita. Semoga mereka hanya tertutup kabut dan bisa ditemukan dalam kondisi selamat,” pungkas Syafiuddin.


Bersama ini kami dari tim Jendela-fakta turut berdukacita dan berharap agar rekan seprofesi kami masih dalam lindungan sang pencipta amin.

(ag/Tj)

TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update